MENEMUI ANAK-ANAK DI RUMAH AMAN POLDA BALI
Untuk sementara para orang tua memang kelihatan belum puas dengan jawaban Iptu Rosdiana tersebut, namun karena diizinkan untuk menemui anak-anak mereka di rumah aman, mereka pun terlihat agak senang dan sudah tidak sabar lagi.
Bagi Kak Zai dan Nila dari LBH APIK Bali, informasi dari Iptu Rosdiana ini dilanjutkan kepada yang bertanggungjawab terhadap Rumah Aman Polda Bali untuk meminta izin sesuai dengan yang disampaikan Iptu Rosdinana tersebut. Agaknya, Iptu Rosdiana juga sudah mengontak penanggungjawab Rumah Aman, sehingga pihak penjaga Rumah Aman memberi sinyal untuk silahkan datang.
Untuk menjaga keamanan anak-anak yang ada di rumah aman tersebut, maka pihak penjaga Rumah Aman meminta persyaratan: Tidak membocorkan lokasi dan tidak mempublish visual rumah aman tersebut. Karena pihak rombongan dari LBH APIK Bali, LPAI Lampung, Dompet Dhuafa dan Dompet Sosial Madani Bali berjanji dan menyanggupi untuk sama-sama merahasiakan Rumah Aman itu, akhirnya mereka pun bersedia memberikan alamat Rumah Aman dan petunjuk jalan menuju ke sana.
Dari Warung Mina, Denpasar Utara akhirnya rombongan menuju ke lokasi Rumah Aman itu. Di sepanjang jalan para orang tua tidak banyak berkata-kata, mereka lebih banyak diam dan membayangkan kondisi anak-anak mereka yang sudah 4 bulan ini belum dilihat wajahnya, yakni sejak ia berkerja di tempat yang menindas mereka itu.
Selama ini yang mereka dengar hanya keluhan dari anak-anak mereka, itu membuat mereka sesak. Keluhan itu mereka dengar sekali dua minggu, itupun hanya 5 menit saja. Karena anak-anak mereka sangat dibatasi untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga oleh perusahaan yang ‘memperbudak’ anak-anak mereka itu.
Karena itu pula mereka sangat bersyukur ketika Dompet Dhuafa mau memfasilitasi mereka untuk bertemu dengan anak-anak yang mereka rindukan itu.
“Kalau tidak difasilitasi ke Bali oleh Dompet Dhuafa, mungkin kami akan tetap berlinang air mata setiap anak kami menelpon kami. Dan kami hanya bisa menunggu entah kapan akan bertemu anak kami dipulangkan ke rumah, karena kami tidak punya biaya untuk datang ke Bali,” ujar Juhdi dari Subang.
Hal yang sama juga dirasakan ketiga orang tua lainnya. Mereka yang semuanya berprofesi sebagai petani dan orang desa, hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa anak-anak mereka. Bahkan setiap hari ia disibukkan menyabarkan isteri masing-masing yang tidak kuat menanggung beban mendengar penderitaan anak-anak mereka.
Sesaat kemudian, suasana semakin hening. Keindahan Bali di sepanjang jalan tidaklah jadi primadona bagi para orang tua tersebut. Mereka terus mebathin dalam hati dan membayangkan kondisi anak-anak mereka yang akan mereka temui. -Bersambung




