
JET jet tempur Fighting Falcon F-16 AU Thailand menjatuhkan bom di wilayah Kamboja, Kamis (24/7), meningkatkan ketegangan antarsesama kedua negara ASEAN itu.
Reuters mengutip sumber militer Thailand mengungkapkan, satu dari enam jet tempur F-16 yang disiagakan di sepanjang perbatasan telah melancarkan serangan ke arah wilayah Kamboja yang disasar.
“Kami telah menggunakan kekuatan udara terhadap target militer sesuai rencana,” ujar wakil juru bicara militer Thailand, Richa Suksuwanon.
Kemenhan Kamboja juga mengakui, jet jet tempur Thailand menjatuhkan dua bom di jalan raya daerah dekat Kuil Ta Moan Thom yang disengketakan kedua negara.
Thailand pun menutup perbatasan dengan Kamboja pasca-serangan bom dari pesawat jet tempur F-16.
Pemerintah Phnom Penh mengecam tindakan militer Thailand tersebut sebagai “agresi militer brutal dan sembrono terhadap kedaulatan Kamboja.”
Bentrokan bersenjata, juga dilaporkan AFP pecah di wilayah perbatasan timur yang disengketakan berlokasi sekitar 360 km dari Ibu Kota Thailand, Bangkok.
“Peluru artileri jatuh di rumah-rumah penduduk,” kata Sutthirot Charoenthanasak, kepala distrik Kabcheing di Provinsi Surin, Thailand, kepada Reuters, menggambarkan penembakan oleh pihak Kamboja
Dua tewas, 40.000 dievakuasi.
Dua warga sipil dilaporkan tewas dan sekitar 40.000 warga dari 86 desa dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Militer Thailand mengatakan, Kamboja mengerahkan drone pengintai sebelum mengirimkan pasukan bersenjata berat ke daerah dekat kuil.
Juru bicara tentara Thailand mengatakan, pasukan Kamboja melepaskan tembakan menggunakan ragam persenjataan termasuk peluncur roket. Menurut catatan, Kamboja memiliki kendaraan peluncur roket 32 laras BM-13 peninggalan Uni Soviet yang berjangkauan belasan km.
Sebaliknya, Jubir Kemenhan Kamboja mengatakan, terjadi serangan tak beralasan oleh pasukan Thailand sehingga pasukan Kamboja meresponsnya sebagai pembelaan diri.
Ketegangan antarnegara ini meningkat setelah Thailand memanggil pulang dubesnya dari Kamboja dan akan mengusir dubes Kamboja dari Bangkok menyusul insiden ranjau darat yang menyebabkan seorang tentara Thailand kehilangan anggota tubuhnya.
Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau darat baru di area yang disengketakan, menyebabkan tiga tentaranya terluka.
Sebaliknya, Kamboja menyatakan bahwa ranjau tersebut merupakan peninggalan perang selama puluhan tahun lalu, dan insiden itu terjadi karena pasukan Thailand keluar dari jalur yang disepakati.
Kamboja memiliki banyak ranjau darat sisa perang saudara puluhan tahun lalu, jumlahnya mencapai jutaan menurut kelompok penjinak ranjau.
Namun, Thailand bersikeras ranjau darat itu telah ditempatkan di daerah perbatasan baru-baru ini. Kamboja menganggap Thailand memberikan tuduhan tidak berdasar.
Sementara itu, Pemerintah China, Kamis (24/7) menyatakan keprihatinannya atas eskalasi konflik bersenjata yang kembali pecah antara Thailand dan Kamboja.
“Kami sangat prihatin atas perkembangan terkini dan berharap kedua pihak dapat menyelesaikan masalah melalui dialog dan konsultasi,” ujar Jubir Kemenlu China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers yang dikutip kantor berita AFP.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat di wilayah sengketa Segitiga Zamrud, pertemuan perbatasan tiga negara, yakni Thailand, Kamboja, dan Laos, serta menjadi lokasi sejumlah kuil kuno yang bernilai historis.
Sengketa perbatasan tersdi ebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Konflik bahkan sempat berubah menjadi bentrokan militer berdarah lebih dari 15 tahun lalu, dan kembali pecah pada Mei 2025, ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak.
Perimbangan militer
Secara umum, menurut catatan Global Firepower, kekuatan militer Thailand yang berada di posisi ke-25, jauh lebih mumpuni dari Kamboja yang berada di posisi ke-95.
Anggaran pertahanan Thailand 2025 menurut catatan SIPRI sebesar 5,73 miliar dolar AS (sekitar Rp92,3 triliun), sebaliknya Kamboja hanya sekitar 1,5 miliar dollar AS (Rp24,3 triliun).
AB Thailand memiliki 360.000 personil. AD-nya didukung 635 tank Tank tempur Utama a.l. 60 unit VT-4 China, 49 unit T-84 Oplot (eks-Ukraina),178 unit M-60 dan 105 unit M48 Patton (buatan AS).
Ada lagi sekitar 17.000 kendaraan tempur lapis baja termasuk 150 tank ringan: Scorpion (eks Inggeris), 106 Stingray (eks-AS), 238 unit pengangkut infantri IFV) BTR-3EI Ukraina dan 130 unit /M1126/M1127 (eks-Kanada).
Matra Darat Thailand juga didukung a.l sekitar 50-an artileri swagerak, dan 26 kendaraan peluncur multi roket a.l. D11A buatan Israel, DTI-1G buatan China dan kanon kal.122mm buatan lokal.
Ada lagi 24 unit meriam swagerak 155mm buatan Israel dan enam unit Caesar buatan Prancis serta 32 pucuk meriam tarik 155mm Soltam 71 (Israel), 198 pucuk M198 (AS), 92 pucuk GHN-45 (Kanada) dan 285 pucuk M101A1 kal. 105mm buatan Perancis.
Matra udara Thailand mengoperasikan 112 pesawat tempur termasuk 28 unit F-16 Fighting Falcon dan 11 unit Grippen buatan Swedia, sedangkan AL-nya memiliki satu kapal induk helikopter,10 fregat, tujuh korvet, 23 kapal patroli, 11 kapal serang cepat (FPB).
Sebaliknya, Kamboja memiliki sektar 221.000 personil, sedangkan AD-nya didukung 644 unit tank tempur utama, sebagian besar warisan eks-Uni Soviet seperti T-54 dan T-55 serta buatan China T-59.
Selain itu, matra darat Kamboja juga didukung ragam meriam tarik a.l. 300 pucuk ZIS-3, M-30 dan M-46 buatan Soviet, 180 unit T-59 dan Type 66 serta peluncur rudal darat ke udara HQ-7 China.
Matra udara Kamboja mengoperasikan belasan helikopter M-17 eks-Uni Soviet dan sejumlah pesawat lawas MiG-21 Fishbed eks-Uni Soviet walaupun tidak terkonfirmasi, sementara AL-nya hanya mengoperasikan belasan kapal patroli buatan eks-Uni Soviet dan China.
ASEAN yang diketuai Malaysia tahun ini hendaknya cawe cawe agar tidak terjadi eskalasi konflik antara Kamboja dan Thailand yang notabene adalah sesama anggota pehimpunan bangsa bangga Asia Tengara itu. (AFP/Reuters/ns)




