
SESUAI prediksi banyak pihak, pembicaraan antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4) gagal menghasilkan kesepakatan damai.
“Pembicaraan damai dengan Iran sejauh ini belum mencapai kesepakatan, “ kata Wapres AS JD Vance kepada wartawan di Pakistan, Minggu (12/4) pagi.
Vance mengaku para pejabat AS sudah keluar dari ruang negosiasi dan berencana kembali ke Washington. AS dan Iran memulai perundingan damai, Sabtu (11/4) usai kesepakat gencatan senjata yang dicapai, Rabu (8/4) lalu.
Vance menuturkan, salah satu perselisihan pandang antara AS dan Iran yang membuat gagal untuk mencapai kesepakatan adalah terkait kepemilikan senjata nuklir Iran.
“Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mendapatkan senjata nuklir dan tidak berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” ujarnya, dikutip dari AFP.
Pembicaraan yang berlangsung di Hotel Serena, Islamabad, Pakistan yang dimediasi oleh tuan rumah, berlangsung selama 21 jam.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqher Qalibaf dan Menlu Abbas Araqchi.
Seorang pejabat Pakistan sempat mengatakan kepada AFP bahwa pembicaraan kedua negara berjalan positif, dengan suasana yang positif pula.
“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujarnya.
Kendati demikian, setelah istirahat sejenak, seorang sumber Pakistan mengatakan kepada Reuters bahwa terjadi perubahan suasana dari kedua belah pihak .
“Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak sehingga suhu naik turun selama pertemuan,” ujarnya.
Iran tak terima syarat AS
Dalam keterangannya, Vance mengatakan ada kekurangan dalam pembicaraan dan bahwa Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat dari AS.
Sementara itu, dalam sebuah unggahan di akun X, pemerintah Iran menyatakan pembicaraan telah selesai dan para ahli teknis akan bertukar dokumen, walau pihaknya mengakui masih ada perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.
“Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada sejumlah perbedaan,” demikian pernyataan pemerintah Iran, tanpa
merinci kapan negosiasi akan dilanjutkan.
Sebelum pembicaraan dimulai, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pencairan aset Teheran di Qatar menjadi salah satu tuntutan Iran dalam negosiasi dengan AS.
Sumber itu mengeklaim bahwa AS telah setuju mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan di Qatar dan bank-bank asing.
Iran juga dilaporkan menuntut kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh wilayah termasuk Lebanon dan juga ingin memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz, alur pelayaran 20 persen minyak mentah global yang ditutup Iran sejak pecah perang pada 28 Feb. telah menjadi salah satu isu krusial dalam negosiasi AS-Iran saat ini.
AS mengatakan dua kapal perangnya telah melewati Selat Hormuz dan sedang menyiapkan pembersihan ranjau yang ditebar Iran, sebaliknya media Iran membantah berita tersebut.
Sementara itu Menlu Pakistan, Ishaq Dar pada Minggu (12/4) meminta agar Washington dan Teheran mematuhi perjanjian gencatan senjata yang sudah disepakati.
Pernyataan ini muncul setelah pembicaraan maraton
antara kedua pihak untuk mengakhiri perang berakhir tanpa kesepakatan.
“Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” kata Ishaq Dar yang pemerintahannya menjadi tuan rumah pembicaraan dan bertindak sebagai mediator, dikutip dari AFP.
“Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Iran dan AS di masa mendatang,” sambungnya.
Wakil Presiden AS, JD Vance menuturkan, pembicaraan dengan Iran gagal mencapai kesepakatan. Menurutnya, inti dari perselisihan tersebut adalah tentang senjata nuklir.
“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” ujarnya, dikutip dari AFP.
“Apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang. Kami belum melihat hal itu. Kami berharap akan melihatnya,” sambungnya.
Dalam pidato singkatnya, Vance tidak menyoroti perbedaan pendapat mengenai isu penting lainnya, yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dia menegaskan, Presiden Donald Trump telah bersikap akomodatif dalam pembicaraan tersebut. “Saya rasa kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif, “ tuturnya.
Presiden Trump, menurut Vance, memberitahukan padanya untuk datang ke sini dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan.
“Kami sudah melakukan itu dan sayangnya kami tidak berhasil mencapai kemajuan,” sambungnya.
Pembicaraan yang berlangsung selama 21 jam dengan dimediasi oleh Pakistan itu merupakan perundingan tatap muka pertama kedua negara sejak revolusi Islam 1979.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menlu Abbas Araqchi.
Seorang pejabat Pakistan sempat mengatakan kepada AFP bahwa pembicaraan kedua negara berjalan positif, dengan suasana yang positif pula.
“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujarnya.
Perubahan suasana
Kendati demikian, setelah istirahat sejenak, seorang sumber Pakistan mengatakan kepada Reuters bahwa ada perubahan suasana dari kedua belah pihak.
“Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Suhu naik turun selama pertemuan,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Vance mengatakan ada kekurangan dalam pembicaraan dan bahwa Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat dari AS.
Sementara itu, dalam sebuah unggahan di X, pemerintah Iran menyatakan pembicaraan telah selesai dan para ahli teknis akan bertukar dokumen. Meski begitu, pemerintah Iran mengakui masih ada perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.
“Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan,” demikian pernyataan pemerintah Iran, tanpa merinci kapan negosiasi akan dilanjutkan.
Sebelum pembicaraan dimulai, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters, pencairan aset Teheran di Qatar menjadi salah satu tuntutan Iran dalam negosiasi dengan AS.
Sumber itu mengeklaim bahwa AS telah setuju mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan di Qatar dan bank-bank asing.
Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, memungut biaya trasit kapal-kapal yang melintasinya, ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh wilayah termasuk Lebanon.(CNNI/AFP/Reuters)




