
Jakarta, KBKNews.id – Pergantian tahun sering kali menjadi momen refleksi bagi banyak orang. Ada yang merayakannya dengan berkumpul bersama keluarga, ada pula yang memilih merenung dan menyusun harapan baru.
Bagi umat Islam, akhir tahun dapat dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa. Hal ini sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan sekaligus permohonan perlindungan dan kebaikan di tahun yang akan datang.
Doa merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, Allah SWT secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mu’min ayat 60:
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’”
Ayat ini menegaskan, doa bukan sekadar permohonan, melainkan bentuk penghambaan dan pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Makna Doa Akhir Tahun
Mengutip buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, disebutkan membaca doa akhir tahun dapat menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon ampunan atas dosa-dosa di tahun yang telah berlalu. Selain itu juga permohonan perlindungan dari godaan setan di masa mendatang.
Doa ini biasanya dibaca setelah salat Ashar atau sebelum masuk waktu Maghrib, terutama saat pergantian tahun Hijriah. Doa ini bisa dipanjatkan berjemaah ataupun sendiri.
Lafal Doa Akhir Tahun
Dalam kitab Maslakul Akhyar karya Habib Utsman bin Yahya, tercantum doa akhir tahun yang dianjurkan dibaca sebanyak tiga kali. Doa ini berisi pengakuan atas dosa, permohonan ampun, serta harapan agar amal kebaikan diterima oleh Allah SWT.
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.
Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Secara makna, doa akhir tahun menegaskan tiga hal penting:
- Pengakuan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan
- Permohonan ampunan atas kelalaian yang belum sempat ditaubati
- Harapan agar amal baik diterima dan tidak terputus dari rahmat Allah SWT
Doa ini menjadi sarana muhasabah yang mendalam sebelum melangkah ke fase kehidupan berikutnya.
Hukum Membaca Doa Akhir Tahun
Dalam buku Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 1 karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dijelaskan doa adalah ibadah, sementara ibadah harus bersandar pada dalil dan tuntunan Rasulullah Saw. Tidak dianjurkan mengkhususkan doa tertentu pada waktu tertentu jika tidak memiliki dasar dari sunah.
Namun, doa yang bersifat umum dan spontan, yang dipanjatkan karena momen tertentu, diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Secara khusus, tidak terdapat dalil shahih yang menetapkan doa akhir dan awal tahun Masehi sebagai sunah Rasulullah Saw. Doa-doa ini tercantum dalam kitab-kitab kumpulan doa, seperti Maslakul Akhyar dan Majmu’ Syarif.
Oleh karena itu, membaca doa akhir dan awal tahun—baik Hijriah maupun Masehi—dibolehkan, selama tidak diyakini sebagai ibadah sunah khusus yang berasal dari Rasulullah Saw.
Doa tersebut dipahami sebagai permohonan kepada Allah SWT yang dapat dipanjatkan kapan saja.
Menutup Tahun dengan Kesadaran Spiritual
Doa di akhir tahun sejatinya bukan soal ritual semata, melainkan tentang kesadaran spiritual. Ia menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan manusia kerap lalai.
Dengan berdoa, seorang Muslim diajak untuk jujur menilai dirinya sendiri, mensyukuri nikmat yang telah diterima, serta menyerahkan harapan masa depan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Menutup tahun dengan doa menjadi cara lembut untuk membuka lembaran baru kehidupan. Tentunya dengan hati yang lebih tenang, jiwa yang lebih berserah, dan harapan yang tertambat pada rahmat-Nya.




