JAKARTA, KBKNews.id – Pagi hari, sebelum mata benar-benar terbuka, jari-jari sudah refleks membuka Instagram atau TikTok. Bukan buat cari berita penting, tapi sekadar lihat siapa yang baru upload story atau video lucu.
Bagi banyak Gen Z di Indonesia, ritual ini bukan sekadar kebiasaan, ini sudah jadi bagian dari hidup. Media sosial bukan lagi hiburan, tapi semacam oksigen digital yang harus dihirup setiap saat.
Gen Z dan Dunia Tanpa Jeda
Menurut survei Talker Research, dalam enam bulan terakhir, 81% Gen Z Indonesia paling sering menggunakan Instagram, diikuti oleh 70% di TikTok, dan 69% di YouTube.
Konten pendek dan cepat jadi favorit, karena sesuai dengan gaya hidup multitasking dan FOMO (Fear of Missing Out) yang tinggi.
Data dari GoodStats menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 188 menit per hari di media sosial, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan durasi penggunaan tertinggi di dunia.
Ketergantungan yang Tak Terasa
Sebuah studi oleh Binus University mengungkapkan bahwa faktor seperti literasi internet dan rasa kesepian memiliki pengaruh signifikan terhadap penggunaan media sosial dan potensi kecanduan video online di kalangan Gen Z.
Mereka mencari pelarian dari kenyataan melalui dunia maya, namun tanpa sadar terjebak dalam siklus yang sulit diputus.
Dampak pada Kesehatan Mental
Laporan dari Digital Insights Thailand 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 53% Gen Z mengalami gangguan kesehatan mental akibat media sosial, dan 58% merasa tertekan karena perbandingan sosial.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan mendapatkan pengakuan dari dunia maya menjadi beban tersendiri.
Upaya Mengurangi Ketergantungan
Menariknya, 83% Gen Z dewasa telah mengambil langkah untuk mengurangi waktu mereka di media sosial, seperti berhenti mengikuti akun tertentu, menghapus aplikasi, atau menonaktifkan notifikasi.
Ini menunjukkan kesadaran akan dampak negatif yang ditimbulkan, meskipun sulit untuk benar-benar lepas.
Mencari Keseimbangan
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Namun, penting untuk menemukan keseimbangan antara dunia maya dan nyata.
Mengurangi waktu layar, meningkatkan interaksi langsung, dan menjaga kesehatan mental adalah langkah-langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar.





