Iran Tuding AS di Balik Demo Besar-besaran

Aksi demo massa melawan pemerintah Iran berlangsung di 92 kota sejak 28 Desember di tengah kesulitan ekonomi negara Itu. (ilustrasi: AFP)

PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyebut aksi-aksi unjuk rasa yang berlangsung di puluhan kota termasuk ibu kota Teheran Desember lalu didukung Amerika Serikat.

BBC melaporkan (9/1) setidaknya sudah 48 demonstran dan 14 personel keamanan tewas sementara 2.217 orang ditangkap dalam gelombang aksi unjuk rasa di Iran yang dipicu masalah ekonomi dimulai 28 Desember lalu.

Kerusuhan yang terjadi, menurut aktivis HAM,  berbuntut perang pernyataan ‘ancaman’ antara presiden AS dan petinggi Iran.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyebut para demonstran antipemerintah sebagai “pembuat onar” yang berusaha “memenuhi keinginan presiden AS”.

Iran juga mengirim surat kepada DK PBB yang menuduh AS mengubah protes menjadi apa yang disebutnya sebagai “tindak kekerasan subversif dan vandalisme yang meluas” di Iran.

Aksi protes, yang memasuki hari ke-13, meletus dipicu  masalah ekonomi dan telah berkembang menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu seruan mengakhiri rezim Republik Islam, dan beberapa pihak mendesak pemulihan monarki.

Ancaman Presiden Trump

Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali  memperingatkan para petinggi Iran untuk tidak melakukan aksu brutal meindas para demosntran, karena jika langkah itu diambil, AS tidak akan tinggal diam.

“Kami akan menyerang Iran dengan keras di tempat paling menyakitkan,” kata Trump di Gedung Putih, Jumat (9/1) dan menambahkan, pemerintahannya memantau situasi di negeri itu dengan cermat dan keterlibatan AS bukan berarti mengerahkan “pasukan di lapangan”.

“Saya kira rakyat Iran akan mengambil alih beberapa kota – hal yang tidak pernah terbayangkan. Itu mungkin terjadi hanya beberapa minggu ke depan,” katanya.

Pernyataan ini sejalan dengan yang disampaikan sebelumnya oleh Trump terkait rezim pemerintah Iran  di mana ia berjanji akan “menyerang mereka dengan keras” jika mereka “mulai membunuhi pendemo”.

Di pelantar medsos Truth Social, Trump menulis: “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, seperti kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menolong mereka. Kami siap mengambil tindakan.”

Sebaliknya, Khamenei dalam pidato televisi Jumat menyebutkan akan membiarkan semua orang paham  bahwa Republik Islam berkuasa melalui darah ratusan ribu orang yang mulia dan tidak akan mundur di hadapan mereka yang menafikannya.

Dalam pernyataan yang disampaikan kepada sekelompok pendukung, dan disiarkan di TV negara, Khamenei mempertegas sikapnya, mengatakan Iran “tidak akan mundur dalam menangani unsur-unsur destruktif”.

Dubes Iran untuk PBB dalam suratanya kepada DK PBB menuduh AS “campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, provokasi, dan dorongan sengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan.

2.277 orang ditangkap
Sejak protes dimulai pada 28 Desember, selain 48 demonstran yang tewas, lebih dari 2.277 orang juga ditangkap, menurut Human Rights Activist News Agency (HRANA) yang berbasis di AS.

Sedangakan Iran Human Rights (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia mengatakan setidaknya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, telah tewas.

Gelombang demonstrasi kali ini merupakan aksi yang paling luas sejak pemberontakan pada 2022 karena kematian seorang perempuan muda bernama Mahsa Amini.
Untuk mencegah eskalasi, keamanan diperketat di Tehran yang menjadi titik mula demonstrasi.

Presiden Masoud Pezeshkian berkata pemerintahannya akan mendengarkan “tuntutan yang sah” dari para demonstran.

Namun, Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad juga memperingatkan bahwa upaya untuk menciptakan ketidakstabilan akan dibalas dengan “respons tegas”. Hal itu dibuktikan dengan berbagai penangkapan oleh aparat keamanan Iran.

Ketua Mahkamah Agung Provinsi Lorestan, Saeed Shahvari, mengumumkan penangkapan sejumlah demonstran beberapa hari terakhir di kota Azna dan Delfan tanpa merinci jumlah yang ditangkap.

Serang markas polisi
Kelompok perusuh memanfaatkan kerumunan demonstrasi di Azna dan menyerang markas polisi, menggunakan berbagai senjata tajam dan panas untuk melucuti senjata petugas dan menyerang gudang senjata.”

Trump menulis di pelantar media sosial Truth Social, “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, seperti kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menolong mereka. Kami siap mengambil tindakan.”

Sebelumnya, laman Persia  Kemenlu AS juga menanggapi aksi protes di Iran.

Melalui unggahan di X, lembaga itu menyebut, “sangat prihatin dengan laporan dan video yang menunjukkan bahwa demonstran damai di Iran menghadapi intimidasi, kekerasan, dan penangkapan.

“Menuntut hak dasar bukanlah kejahatan. Rezim Republik Islam harus menghormati hak-hak rakyat Iran dan menghentikan penindasan, ” demikian yang ditulis laman tersebut.

Eskalasi demo-demo massa yang semakin meluas ke berbagai wilayah dan lokasi di Iran agaknya mengancam keberlanjutan rezim yang berkuasa saat ini dan dinanti oleh kelompok pendukung rezim monarki yang siap-siap mengambi alih kekuasaan. (BBC/Kompas.com/ns)

.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here