Sering Lupa, Tanda Penuaan atau Awal Demensia?

Ilustrasi Demensia, Alzheimer. (Foto: SHUTTERSTOCK/fizkes)

JAKARTA, KBKNews.id – Seiring bertambahnya usia, wajar jika seseorang mengalami kelupaan seperti lupa nama, lupa di mana meletakkan barang, atau kesulitan mengingat kata.

Namun, kekhawatiran sering muncul karena meningkatnya kesadaran akan demensia, sehingga banyak yang bertanya-tanya apakah kelupaan tersebut merupakan tanda awal kondisi tersebut.

Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan, demensia adalah kumpulan gejala penurunan fungsi otak yang memengaruhi ingatan, cara berpikir, kemampuan berkomunikasi, perilaku, serta emosi seseorang.

Meskipun terasa menjengkelkan, lupa sesekali atau sulit mengingat sesuatu sebenarnya adalah hal yang umum terjadi dan biasanya tidak berbahaya.

Laporan dari Medical Daily menjelaskan bahwa kelupaan semacam ini merupakan bagian alami dari proses penuaan, di mana ingatan yang terganggu biasanya berkaitan dengan kejadian masa lalu dan hanya terjadi sesekali.

Sebaliknya, demensia ditandai dengan penurunan memori yang dimulai secara ringan dan makin parah dari waktu ke waktu. Penderitanya cenderung kesulitan mengingat hal-hal baru, seperti percakapan yang baru saja terjadi atau wajah orang yang baru mereka temui.

Gejala demensia juga dapat berupa kesulitan berbicara, kebingungan terhadap waktu dan tempat, perubahan sikap dan kepribadian, kesulitan menjalankan aktivitas harian, serta gangguan persepsi ruang yang dapat menyebabkan jatuh. Kesulitan membedakan warna juga bisa menjadi gejala tambahan.

Namun, tidak semua kelupaan berarti demensia. Faktor-faktor seperti stres, kelelahan, gangguan tidur, kekurangan nutrisi, masalah tiroid, efek samping obat, cedera kepala, atau gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan juga bisa menjadi penyebab.

Jika gangguan ingatan mulai memengaruhi kegiatan sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai termasuk sering mengulang pertanyaan, tersesat di lingkungan yang familiar, dan tidak mampu merawat diri sendiri.

Penting dicatat bahwa diagnosis demensia tidak bisa ditentukan hanya dari gejala lupa atau bingung. Evaluasi medis menyeluruh oleh tenaga profesional, termasuk riwayat kesehatan, tes kognitif, pemeriksaan fisik, dan pencitraan otak, dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.

Pada beberapa kasus, lansia yang kerap lupa mungkin mengalami gangguan kognitif ringan (MCI), yang berbeda dari demensia karena penderita MCI masih bisa menjalankan aktivitas harian secara mandiri.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here