PERMAINAN SINDIKAT INTERNASIONAL
Soal tempat kerja yang ditawarkan kepada 4 anak orang tua ini, ternyata memang beragam. Ada yang dikatakan mereka akan ditempatkan berkerja di Yordan, Abudabi dan Jakarta.
Tapi akhirnya yang mereka heran kok akhirnya mereka berkerja di Bali. Awalnya, ketika mereka dibawa ke Bali, disebutkan Bali hanya sebagai tempat transit saja.
Namun setelah ditelaah, mungkin saja itu juga benar. Menurut sumber yang layak dipercaya tapi tidak mau menyebutkan namanya, diduga, Bali ini memang penampungan sementara, jika memang perusahaan yang merekrut mereka ini dijalankan oleh sindikat perdagangan orang internasional.
“Jadi selama di penampungan di Bali, untuk sementara mereka tetap dipekerjakan sesuai kebutuhan, agar perusahaan tetap mendapat pemasukan dari mereka,” jelas sumber itu.
Tapi itu baru dugaan dan perlu pembuktian oleh aparat hukum yang berwenang. Kalau itu benar, selamatlah keempat remaja ini karena sudah dapat diamankan oleh kepolisian.
Sumber KBK juga percaya, kalau dilihat dari kasus yang berjalan. Seperti kasus ini langsung ditangani Mabes Polri dan Polda Bali hanya sekedar membackup, tentu kasus ini termasuk besar. Dan bisa jadi akan berhubungan dengan Interpol kalau memang ada alat bukti yang menunjukkan ini jaringan sindikat internasional yang sudah bermain sejak lama. Hanya saja. kebetulan saja kasus 4 anak ini cepat terungkap dan belum sempat menjadi komuditas internasional, karena kegigihan salah seorang dari orang tua anak yang tidak terima dengan apa yang diberlakukan terhadap anaknya.
Dapat dibayangkan, karena yang direkrut sebagian besar adalah orang-orang desa yang awam, dan kebanyakan anak-anak yang berasal dari keluarga yang bermasalah. Baik masalah kebodohan, ketertinggalan maupun kemiskinan serta jauh dari hiruk pikuk kota. Sehingga perusahaan yang merekrut tersebut menjadi leluasa memberlakuan si anak seperti budak dan diperdagangkan.
Karena kebanyakan orang tua akan takut diintimidasi seperti membayar puluhan juta atau kalau nggak anaknya diapa-apain, sehingga yang ada adalah kepasrahan menunggu nasib saja. Yang bisa mereka lakukan hanya meratap, mengeluh dan berdoa, karena memang mereka tidak tahu bagaimana mencari jalan keluar untuk anaknya itu.
“Benar, Pak. Kami kalau tidak didampingi LPAI, Dompet Dhuafa, ngga tahulah. Kami hanya akan terima nasib anak-anak kami,” jelas Juhdi dari Subang kepada KBK dengan mata berkaca-kaca dan suara berat karena sedih.
SELANJUTNYA : IMING-IMING GAJI BESAR




