Upaya Membebaskan Anak dari ‘Perbudakan’ di Bali (3)

Orang Tua Korban, LBH APIK, LPAI Lampung bertemu untuk membahas pemulangan anak-anak korban 'perbudakan'. Foto:Maifil/ KBK

SUASANA DI RUMAH AMAN POLDA BALI

Setelah menempuh jalan panjang yang melelahkan dan penuh liku. Para orang tua korban “perbudakan” yang datang dari berbagai daerah, akhirnya sampai jua di Rumah Aman Polda Bali, Jumat Sore (28 Juli 2016).

Di sana banyak anak-anak dari umur puluhan sampai belasan, bermain ceria bersama teman-teman mereka. Itulah anak-anak, betapapun penderitaan yang mereka alami, bermain adalah dunia yang menyenangkan bagi mereka.

Selain anak-anak, ada pula remaja, tapi ya begitu,  agaknya mereka baru lepas dari usia anak-anak ke remaja, tapi sudah terlihat seperti dewasa. Mereka juga masih menikmati bermain dan berlarian dengan teman-temannya, tapi mirisnya ia berlari-lari dengan perut buncit. Ternyata memang ia sedang hamil, sekitar 5 bulanan.

Menurut informasi petugas yang tidak mau menyebutkan namanya, si anak yang baru remaja itu hamil karena dijual oleh bapak kandungnya, kini juga diusut keterlibatan bapaknya dalam menghamilinya. Ia juga diamankan Polisi di tempat SPA di Bali.

Selain itu, ada juga gerombolan anak-anak. Mereka sekitar belasan orang jumlahnya. Usianya yang di bawah 15 tahun. Benar-benar di bawah umur. Tapi tubuh mereka dan postur mereka juga sudah seperti orang dewasa. Ibaratkan tumbuhan, kembangnya sudah tak lagi mekar, karena putik sudah hendak jadi buah.

Mereka kebanyakan berasal dari Indramayu, Cianjur dan sekitar Jawa Barat. Mereka adalah hasil penggerebakan Polisi di beberapa tempat SPA di Bali. Mereka diperkerjakan sebagai tukang pijat dan melayani tamu lahir bathin. Nauzdubillah.

SELANJUTNYA: PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN

Advertisement