Upaya Membebaskan Anak dari ‘Perbudakan’ di Bali (4 Habis)

KEMBALI KE JAKARTA DENGAN PERASAAN GUNDAH

Ketika para orang tua korban perbudakan ini mencari jawaban masalah anaknya ke rumah Ni Luh Putu Nilawati, tim Dompet Dhuafa berusaha mencarikan tiket untuk ke kembali ke Jakarta. Hari itu, Sabtu, sudah tidak ada tiket penerbangan ke Jakarta, karena sudah penuh. Kemudian tiket dapat untuk hari Ahad (31/7/2016), itu pun sore hari.

Alhasil, Ahad pagi sebelum berangkat kembali ke Jakarta, pagi sekali rombongan sudah check-out dari hotel. Tim kembali meminta pendampingan LBH APIK Bali untuk pamitan kepada anak-anak mereka di rumah aman.

Melalui lobi dari LBH APIK kemudian rombongan dizinkan untuk menengok anaknya kembali sebelum berangkat ke Jakarta. Kali ini, para orang tua sudah tidak memakai baju yang dua hari lalu, tapi sudah memakai baju baru, sumbangan dari Yayasan Sahabat Anak Bali yang diantar Andy dari yayasan itu kemarin sore.

Setelah beberapa jam di perjalanan, sampailah di rumah aman dimaksud. Orang tua korban perdagangan anak kembali dapat bersua dengan anak-anak mereka. Mereka diberi kesempatan berbincang-bincang sampai zuhur, karena rombongan sudah harus sampai di Bandara I Ngurah Rai, sehabis ashar.

Perbincangan hangat kembali terjadi antara anak dan bapak. Tapi akhirnya, ketika azan zuhur kehangatan itu harus berakhir. Walaupun sedih, belum bisa pulang bersama. Tapi ada sukanya karena dapat dipersuakan dalam kondisi keterbatasan.

Hanya doa dan air mata yang kemudian mengiringi tim kembali pulang naik ke angkutan untuk ke bandara Bali. Selama di kendaraan tidak banyak yang dapat mereka perbincangkan. Semuanya sudah mengerti, kalau mereka hanya tinggal menunggu waktu masalah ini selesai dan anak mereka kembali ke rumah masing-masing.

Di bandara, di tengah perasaan gundah orang tua korban kembali mendapat cobaan. Mereka tidak dapat terbang sesuai jadwal. Pesawat Lion Air delay sampai 45 menit. Pesawat yang harusnya take-off pukul 16.000 WIB akhirnya harus menunggu hingga 16.45 WIB. Di landasan pacu, juga harus menunggu antere untuk terbang lebih dari 15 menit.

Alhasil, pesawat landing di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 20.00 WIB. Bagi Juhdi, Apud dan Abdul Latif keterlambatan itu tidak begitu jadi masalah. Namun bagi Muhammad Zainuddin dan Edward yang harus melanjutkan perjalanan ke Lampung menggunakan pesawat Lion Air yang lain, menjadi sangat terlambat.

“Kami ditinggal pesawat, mas,” jelas M. Zainuddin yang akrab dipanggil Kak Zai menyampaikan kabarnya lewat pesan singkat kepada KBK.

Mereka berusaha untuk mengambil penerbangan sesudahnya namun untuk ke Lampung sudah tak ada, harus menunggu esok hari. Dari pada menunggu esoknya, akhirnya Kak Zai dan Edward memutuskan untuk me-refund tiketnya dan mereka naik Damri ke Merak. Dari Merak naik kapal ke Bakauheni dan disambung dengan bus travel ke rumah masing-masing.

Sementara itu Apud, Juhdi dan Abdul Latif memilih naik Damri ke Purwakarta. Mereka akan melanjutkan dengan angkutan lain sedari Purwakarta; baik yang ke Subang maupun Karawang, selanjutnya naik ojek ke rumah masing-masing.

Kini mereka sudah berada di rumah masing-masing, namun dengan perasaan yang belum plong.  Kini mereka hanya bisa menunggu Mabes Polri menyelesaikan kasus ini dan segera melepaskan anaknya, agar senyuman kembali hadir di tengah rumah mereka. Habis

Advertisement